Takbir Keliling Idul Adha 1447 H di Ngawi Terasa Sepi, Warga Berharap Keterlibatan Swasta Agar Lebih Meriah

Suasana takbir keliling Idul Adha 1447 H di Kabupaten Ngawi tahun 2026 yang berlangsung lebih singkat dan didominasi peserta pelajar dari tingkat sekolah.
Ngawi, Transisi.net – Suasana takbir keliling Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di kawasan Alun-Alun Merdeka Ngawi pada Selasa malam (26/5/2026) menjadi perhatian warga. Kegiatan yang selama ini identik dengan kemeriahan malam takbiran itu tahun ini dinilai berlangsung lebih singkat dan kurang menggugah antusiasme masyarakat.
Berdasarkan pantauan di seputaran alun-alun, peserta takbir keliling didominasi gabungan pelajar tingkat SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/MAN di wilayah kota. Kegiatan bahkan hanya berlangsung sekitar 90 menit sebelum arus peserta mulai berangsur sepi.
Sejumlah warga mengaku suasana tahun ini terasa berbeda dibanding pelaksanaan takbir keliling beberapa tahun sebelumnya yang dinilai lebih ramai dan penuh variasi.
Ya rasanya agak kecewa, momen seperti ini kurang berkesan dan kurang spektakuler. Dulu suasananya lebih hidup,” ujar salah satu penonton di sekitar lokasi.
Selain soal durasi dan jumlah peserta, perhatian warga juga tertuju pada konsep kegiatan yang dinilai belum banyak mengalami pengembangan dari tahun ke tahun. Beberapa masyarakat berharap pelaksanaan takbir keliling tidak hanya bertumpu pada sekolah atau lembaga pendidikan semata.
Tiap tahun yang terlihat dominan memang dari ranah pendidikan. Mungkin ke depan pemerintah daerah bisa mengikutsertakan pihak swasta, komunitas, UMKM, atau perusahaan agar Ngawi lebih berwarna dan meriah,” kata penonton lainnya.
Harapan serupa juga sempat disampaikan Bupati Ngawi melalui akun Instagram pribadinya. Dalam penyampaiannya, ia menilai kegiatan takbir keliling memiliki dampak sosial dan ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat.
Dengan takbir keliling tentu warga masyarakat bisa berkumpul, ekonomi kerakyatannya jalan dan seterusnya untuk memperingati hari besar keagamaan ini ada ghirah atau semangat. Jangan sampai karena adanya efisiensi dan sebagainya, nggak ada dana dan sebagainya, terus ini hilang sama sekali,” demikian penyampaian yang diunggah melalui akun media sosialnya.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, terutama terkait bagaimana tradisi malam takbiran dapat terus dipertahankan di tengah perubahan konsep pelaksanaan kegiatan dari tahun ke tahun.
Sejumlah warga menilai keterlibatan lebih banyak unsur masyarakat seperti komunitas, pelaku UMKM, maupun pihak swasta berpotensi menambah daya tarik kegiatan takbir keliling di pusat kota.
Berdasarkan pantauan di sekitar Alun-Alun Merdeka Ngawi, sebagian masyarakat mulai meninggalkan lokasi setelah rombongan peserta selesai melintas. Kondisi tersebut membuat suasana pusat keramaian berangsur lengang lebih cepat dibanding pelaksanaan pada beberapa tahun sebelumnya.
Meski demikian, pelaksanaan kegiatan tetap berlangsung aman dan kondusif hingga selesai. Tradisi takbir keliling masih menjadi bagian dari syiar dan budaya masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Ngawi.
Sejumlah warga berharap pelaksanaan kegiatan ke depan dapat dikembangkan lebih variatif tanpa menghilangkan nilai religius, sehingga momentum malam takbiran tetap mampu menghadirkan antusiasme masyarakat sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar pusat keramaian. (Tim/red)
Transisi tidak bertanggung jawab atas isi komentar pengguna. Seluruh komentar menjadi tanggung jawab masing-masing penulis sesuai hukum yang berlaku.
Silakan login akun Google untuk ikut berdiskusi.